Biografi Tiga Wanita - Alur Cerita Film THE HOURS
Apa yang menghubungkan pribadi di masa yang berbeda? Barangkali adalah
persoalan kemanusiaan. Persoalan yang selalu hadir kembali, di mana pun, kapan
pun. Persoalan yang bernuansa sama, meski mode terus berganti, penampilan
berubah, ciri-ciri fisikly tidak sama. Persoalan yang tetap saja dibingungi,
oleh manusianya sendiri.
Setidaknya persoalan itu dikesankan dari tiga potret wanita dalam film
“The Hours”. Sebuah cerita yang sungguh tidak gampang menceritakannya.
Ketiganya punya dunianya sendiri-sendiri, masanya masing-masing. Tapi ketiganya
dihubungkan dengan benang merah persoalan cinta, kebebasan, dan
perasaan-perasaan tertekan. Tema seperti ini tentunya sangat besar kemungkinan
terjerumus menjadi ‘asyik sendiri’, lamban, dan membosankan.
Tapi sutradara Stephen Daldry dan penulis skenario David Hare berusaha
mengisahkan cerita yang menanjak. Cerita yang berakhir pada sebuah adegan seram
yang dipakai pembuka film berdasar novel yang ditulis Michael Cunningham (1988)
ini. Seorang wanita, setelah menulis surat cinta kepada suaminya, memenuhi
kantong-kantong bajunya dengan batu, lalu berjalan pelan ke tengah sungai
sampai tenggelam.
Wanita itu adalah Virginia Wolf (1882-1941), seorang sastrawan dan
feminis yang dalam novel terkenalnya, Mrs Dalloway, terus menggugat cinta dan
kebebasannya. Kalau adegan pertama “The Hours” berlangsung di tahun 1941,
masa-masa terakhir kehidupan Virginia, maka flashbacknya terjadi tahun
1923 yang mengawali penulisan Mrs Dalloway. Semuanya berlangsung di Sussex dan
Richmond, Inggris, di keluarga menengah yang menjaga etiket pergaulan dan kaku.
Virginia Wolf (Nicole Kidman) sangat mencintai dan menghargai suaminya,
Leonard (Stephen Dillane). Virginia menderita depresi, dan suaminya menerima
dengan perhatian dan cintanya. Semestinya Virginia menjadi tenang. Tapi
bisikan-bisikan itu selalu hadir di hatinya. Dia mempertanyakan arti cinta yang
mengekangnya, kebebasannya yang terkungkung etiket, seksualitas perempuan yang
terbebani moral, pilihan hidupnya yang terasa terbatas. Depresinya memang
mendorong untuk terus mempertanyakan wilayah-wilayah yang dalam kacamata umum
sebenarnya membahagiakan. Dan akhirnya, Virginia harus meninggalkan ‘penjara’
berupa sangkar emas itu.
Wanita kedua adalah Laura Brown
(Julianne Moore) yang hidup di Los Angeles tahun 1953. Laura juga semestinya
berbahagia. Dia mempunyai suami (John C Reilly) yang baik dan mencintainya,
anak laki-laki yang sangat membutuhkannya, dan Laura sendiri sedang hamil lagi.
Pekerjaan suaminya mapan sehingga dia tidak diberatkan oleh masalah-masalah
ekonomi.
Tapi kisah yang dimulai dengan kehidupan pagi keluarga Laura, pelan-pelan
menyingkap bahwa wanita itu tidak berbahagia. Seperti Mrs Dalloway yang
dibacanya berkali-kali, Laura merasa tertekan eksistensinya oleh cinta dan
segala kebaikan yang sebenarnya adalah penjara. Kebebasannya, intelektualnya,
merasa terabaikan dengan norma-norma umum wanita bahagia.
“Engkau telah benar-benar menjadi wanita, Laura, karena engkau punya
keluarga yang baik dan anak dari rahim sendiri,” kata temannya. Tapi jawaban
Laura, malah mengisahkan Mrs Dalloway yang diidentikan dengan dirinya: “Dia
kelihatan seperti seorang yang berbahagia, padahal tidak.” Setelah itu Laura
mencoba untuk meninggalkan keluarganya. Juga mencoba untuk bunuh diri.
Wanita ketiga adalah Clarissa Vaughn (Meryl Streep), seorang editor buku
yang tinggal di Manhattan, New York city, tahun 2001. Clarissa yang merupakan
nama depan dari Mrs Dalloway, berusaha mengungkapkan cintanya kepada Richard (Ed
Harris), seorang penyair penerima penghargaan sastra yang mengidap AIDS. Dengan
mengungkapkan cintanya yang tulus kepada mantan kekasihnya itu, Clarissa merasa
berbahagia dan berarti. Dia akan mengadakan pesta khusus buat Ricahard.
Tiga tokoh wanita yang satu sama lain tidak dihubungkan dengan peristiwa
fisik itu saling bergantian muncul. Persoalan yang dihadapinya sama-sama tidak
terpecahkan pada satu pilihan. Ketiganya sama-sama terombang-ambing dalam
kelelahan hidup yang panjang. Virginia yang depresi tidak benar-benar bisa
menentukan pilihan hidupnya sendiri, kebebasannya, perilaku seksualitasnya.
Kecuali kematian seperti sikap yang diambilnya. Kematian membebaskan manusia
dari berpikir semua itu. Tapi itu tentunya bukanlah pilihan yang bijaksana.
Laura dan Clarissa pun mengalami hal yang sama. Sejauh-jauhnya Laura
melarikan diri, teriakan anaknya yang tidak mau ditinggalkan terus berdengung
di telinganya. Clarissa yang hidup di jaman lebih bebas dari norma sosial, bisa
lebih bebas memilih untuk mempunyai anak melalui inseminasi buatan, dan
menjalani kehidupan seksual sebagai lesbian. Tapi dia tetap kembali kepada
Richard, mantan kekasihnya yang sudah tidak berdaya. Dan dia terpukul hebat,
merasa tidak berharga, ketika justru Richard yang menolak menghadiri pestanya.
Tema yang lumayan berat ini rasanya berhasil ditampilkan dengan
gambar-gambar yang lamban, peristiwa tidak biasa, dan dialog yang dalam. Meski
sampai akhir cerita, penonton berhak gemas, karena tidak ada flasback
yang melatari depresi Virginia. Sehingga bisa jadi memunculkan komentar: manja
banget, gitu-gitu aja depresi. Atau barangkali “The Hours” dikhususkan bagi
yang sudah membaca karya dan biografi Virginia Wolf. (yus)***

0 Response to "Biografi Tiga Wanita - Alur Cerita Film THE HOURS"
Posting Komentar