Dunia Ini Panggung Sandiwara - Alur Cerita Film CHICAGO
“Ini Chicago! Di sini, apapun bisa terjadi,” kata Billy Flynn
(Richard Gere) ketika meyakinkan Roxie Hart (Renee Zellweger). Billy adalah
seorang pengacara handal yang bisa merubah kesan kliennya menjadi baik, atau
sebaliknya. Roxie Hart adalah seorang wanita muda yang bermimpi menjadi
selebritis. Karena mimpinya itu Roxie yang telah bersuami itu selingkuh,
kemudian membunuh.
Kisah yang diangkat dari pertunjukan musik Broadway ini mengusung
ide besar dengan kesan komedi, sinis, sekaligus menghibur. Sangat pantas kalau
film garapan sutradara Rob Marshal ini dipilih sebagai film terbaik Oscar 2003. Dari beberapa hal,
terutama ide “cara penyampaian”, film ini termasuk luar biasa. Panggung hiburan
sebagai setting sentral menjadi begitu simbolis. Adegan-adegannya bolak-balik
dari peristiwa jalan cerita ke dunia hiburan, dunia lagu, begitu menghibur
sekaligus sarkastis. Ditambah penataan musik dan lirik yang imajinatif, penuh
kritik. Kadang juga para tokohnya menjadi boneka yang digerakkan sebuah “tangan
kekuatan”.
Secara keseluruhan, “Chicago” adalah sebuah film surealis dengan
kemungkinan banyak tafsir. Ceritanya tidak hanya tentang dua orang wanita yang
dipenjara karena membunuh, kemudian dibebaskan karena kehandalan pengacara
Billy Flynn. Tapi merembet jauh menjadi kepura-puraan yang terjadi di mana dan kapan saja.
Dinyatakan film peraih Oscar yang dirayakan secara “prihatin’’,
Chicago seperti sebuah klimaks. Keprihatinan insan film terhadap agresi pasukan
koalisi pimpinan Amerika Serikat ke Irak mewarnai perayaan Academy Awards ke 75
saat itu. Tidak saja pestanya
di panggung Kodak Theatre, Los Angeles (23/3) yang disederhanakan, tapi juga
pernyataan langsung insan film seperti Nicole Kidman, Adrian Brody dan Michael
Moore. Dan “Chicago” melengkapinya dengan sindiran tajam, betapa memuakkannya
kemanusiaan pemerintah AS bersama para pendukungnya waktu itu.
Roxie Hart adalah wanita ambisius yang ingin menjadi bintang
panggung hiburan seperti Velma Kelly (Catherine Zeta-Jones). Kecantikan,
kemudaan, dan ambisi yang sanggup mengorbankan apapun, termasuk berselingkuh
dari suaminya (John C Reilly), malah menghasilkan penjara karena membunuh teman
selingkuhnya yang ingkar janji. Bersamaan dengan itu, Velma Kelly pun masuk
penjara karena membunuh suami dan adiknya yang berselingkuh.
Pertemuan dua wanita cantik ini di penjara, juga ketenaran Velma
Kelly, mengundang pengacara handal Billy Flynn untuk menangani mereka. Bagi
Billy, ketenaran Velma Kelly dan kecantikan Roxie Hart adalah modal untuk
merebut simpati masyarakat. “Roxie, pengadilan ini, bahkan dunia ini, hanya
sirkus, hanya bisnis tontonan semata,” katanya dengan dilagukan.
Rekayasa pun dibuat. Roxie menjadi bintang media massa sebagai
wanita cantik dan muda yang terpaksa membunuh. Simpati masyarakat berdatangan,
menutupi kejahatan dan ambisi buruknya. Ketenarannya
melebihi Velma yang benar-benar bintang panggung hiburan. Kelak keduanya,
setelah dibebaskan dari penjara, menjadi duet di panggung sandiwara.
Selesai menonton film ini, ingatan saya kembali ke tahun 2003, saat menyaksikan
siaran langsung televisi Al-Jajeera dari Irak. Gembar-gembor AS sebagai pengaman dunia,
pelucut senjata-senjata berbahaya, pembasmi teroris internasional; tak lebih
dari omong besar perudal pemukiman sipil, perusak instalasi listrik, air, dan
penyengsara jutaan orang. Tapi semuanya memang bisa ditutupi. Ambisi seburuk
apapun bisa disulap menjadi berwajah humanis, cantik, muda, mengundang simpati.
Ketajaman sutradara Rob Marshal bisa jadi karena Chicago: A
Musical Vaudeville yang menjadi dasar film ini telah dipentaskan hampir dua
ratus kali. Maurine Dallas Watkins menuliskan kisahnya tahun 1920-an lalu.
Mantan wartawan Chicago Tribune ini memang mengetahui seluk beluk dunia hiburan
dan pengadilan di Chicago yang penuh kepura-puraan. Ketika dituliskan dalam
bentuk naskah musikal yang komedi, banyak orang yang suka.
Pengalaman
itu barangkali yang menjadikan Rob Marshal punya banyak pilihan. Tapi
bagaimanapun, “Chicago” adalah film yang baik dan mandiri. Film yang menjadi
gambaran tidak saja di Chicago, tapi bisa di mana saja, dan kapan saja. Film jadul yang layak tonton para milenial peggemar film. (yus)**

0 Response to "Dunia Ini Panggung Sandiwara - Alur Cerita Film CHICAGO"
Posting Komentar